Senin, 30 Januari 2012

Isi Kandungan Surah Ali Imran Ayat 159-160

Dalam ayat 159 surat al-Imran, Allah memperingatkan kepada Muhammad SAW, agar bersikap lemah lembut dan sopan santun ketika mengajak umatnya kepada ajaran agama Islam. Jangan sekali-kali berlaku kasar kepada mereka meskipun belum menerima ajakannya bahkan Allah SWT menganjurkan kepada Muhammad untuk mendoakan kebaikan mereka yang belum taat ini pernah dilakukan nabi Muhammad ketika beliau mengajak orang Taif masuk Islam, mereka bukan menerimanya dengan baik justru mereka mengusir nabi dengan kasar bahkan mereka menyakitinya. Namun nabi tidak marah bahkan mendoakan mereka:
Artinya; ya allah berikan petunjuk kepada kaumku karena mereka belum mengerti
Ini merupkan doa nabi Muhammad kepada orang-orang yang belum mau mengikuti ajaran yang dibawanya yaitu bahwa yang harus disembah hanyalah Allah. Perintah untuk bersifat lemah lembut kepada audien itu betul-betul dilaksanakan oleh nabi, dalam menjalakan dakwahnya, sehingga dalam waktu yang tidak lama dakwah beliau dapat diterima oleh kalangan kafir yang semula sangat menentang ajakannya. Ini berkat dakwahnya yang lembut dan tidak memusuhi.

Dalam ayat 160 Allah menegaskan kembali bahwa Allah selalu memberikan pertolongan kepada hamba-hambaNya yang lemah lembut dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT, hamba-hambaNya yang santun dan tidak menyombongkan diri, dan hamba-hambaNya yang senantiasa menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah semata. Hamba yang pantas mendapatkan pertolongan Allah itu adalah mereka yang telah membuktikan kesabarannya dalam menghadapi berbagai goncangan, yang tetap istiqomah dan pantang menyerah.

Salah satu yang menjadi penekanan pokok ayat ini adalah perintah melakukan musyawarah, Ini penting, karena petaka yang terjadi diperang uhud didahului oleh musayawarah yang disetujui oleh mayoritas kendati demikian, hasilnya sebagaimana yang telah diketahui kegagalan hasil ini beoleh jadi mengantarkan seseorang untuk berkesimpulan bahwa musyawarah tidak perlu diadakan, apalagi bagi rasulullah, maka karena ayat ini dipahami sebagai pesan untuk melakukan musyawarah. Kesalahan yang dilakukan setelah musyawarah tidak sebesar kesalahan yang dilakukan tanpa musyawarah, dan kebenaran yang diraih sendirian tidak sebaik yang diraih bersama.

Kata musyawarah terambil dari akar kata syawara yang pada mulanya bermakana”mengeluarkan madu dari sarang lebah” makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain termasuk pendapat.

Pada ayat ini disebutkan tiga sifat dan sikap secara berurutan disebut yang diperintahkan kepada nabi Muhammad untuk dilaksankan sebelum musyawarah, penyebutan ketiga hal itu walaupun dari segi konteks turunnya ayat mempunyai makna tersendiri yang berkaitan dengan perang Uhud namun dari segi pelaksanan dan esensi musyawarah, ia menghiasi nabi Muhammad saw dan setiap orang yang melakukan musyawarah. Setelah itu disebutkan lagi satu sikap yang harus diambil setelah adanya musyawarah dan bulatnya tekat.
Pertama, berlaku lemah lembut, tidak kasar dan tidak berhati keras.

Seorang yang melakukan musyawarah, apalagi yang berada dalam posisi pemimpin, yang pertama harus dihindari adalah tutur kata yang kasar serta sikapmkeras kepala. Karena jika tidak maka mitra musyawarah akan bertebaran pergi. Petunjuk ini dikandung oleh penggalan awal ayat diatas.
Kedua, memberi maaf dan membuka lembaran baru. Dalam bahasa ayat diatas: fa’fu ‘anhum. Maaf secara harfiah berarti menghapus. Memaafkan adalah menghapus bekas luka hati akibat perlakuan pihak lain yang dinilai tidak wajar. Itu perlu karena tiada musyawarah tanpa adanya pihak lain. Sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan dengan sirnanya kekeruhan hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar